Pages

Rabu, 08 Juni 2011

“Hubungan Antara Motivasi Orang Tua Dengan Hasil Belajar Siswa Kelas VII MTs AL FURQON Sekampung Kabupaten Lampung Timur Tahun Pelajaran 2010/2011”


Hubungan Antara Motivasi Orang Tua Dengan Hasil Belajar
Siswa Kelas VII MTs AL FURQON Sekampung
Kabupaten Lampung Timur Tahun Pelajaran 2010/2011”

A. Penegasan Judul
1. Hubungan
Menurut Kartini Kartono mengatakan korelasi adalah “hubungan timbal balik; yaitu saling terkaitnya secara relatif teratur dua gejala atau lebih dari dua gelaja”.[1] Menurut Kamus Bahasa Indonesia mengatakan “hubungan adalah berkait atau bersambung”.[2]
Dari pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa hubungan adalah keterkaitan/hubungan timbal balik secara teratur dua gejala atau lebih dari dua.
2. Motivasi
Dalam Kamus Bahasa Indonesia Lengkap dikatakan bahwa motivasi adalah alasan atau dorongan.[3]
Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Tiga elemen utama dalam definisi ini adalah intensitas, arah, dan ketekunan. Dalam hubungan antara motivasi dan intensitas, intensitas terkait dengan dengan seberapa giat seseorang berusaha, tetapi intensitas tinggi tidak menghasilkan prestasi kerja yang memuaskan kecuali upaya tersebut dikaitkan dengan arah yang menguntungkan organisasi. Sebaliknya elemen yang terakhir, ketekunan, merupakan ukuran mengenai berapa lama seseorang dapat mempertahankan usahanya[4].
Jadi motivasi adalah sesuatu yang dapat membangkitkan semangat seseorang dalam melakukan sesuatu.
3. Orang Tua
Wali murid/orang tua adalah orang yang diserahi hukum (agama/adat) diserahi kewajiban mengurus anak yatim piatu serta hartanya selama anak itu belum dewasa.[5]
Jadi wali murid adalah orang tua yag berkewajiban mengurus anak sampai anak itu dewasa.
4. Hasil Belajar
Menurut Oemar Hamalik hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.[6]
Jadi hasil belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses yang telah dilakukan berulang-ulang serta akan tersimpan dalam jangka waktu lama. karena hasil belajar turut serta dalam membentuk pribadi individu yang selalu ingin mencapai hasil yang lebih baik lagi sehingga akan merubah cara berpikir serta menghasilkan perilaku kerja yang lebih baik.
5. Siswa Kelas VII MTs Al Furqon
Dalam penelitian ini, penulis mengkhususkan siswa kelas VII MTs AL Furqon Sekampung Kabupaten Lampung Timur Tahun Pelajaran 2010/2011 sebagai subjek yang akan diteliti.
6. Alasan Memilih Judul
Judul “Hubungan Antara Motivasi Orang Tua Dengan Hasil Belajar Siswa kelas VII MTs AL Furqon Sekampung Kabupaten Lampung Timur Tahun Pelajaran 20102011  penulis ambil dengan alasan :
  • Pentingnya kepedulian orang tua kepada anaknya dalam masalah pendidikan.
  • Sejauh mana hubungan antara motivasi orang tua dengan hasil belajar siswa kelas VII MTs AL Furqon Sekampung Kabupaten Lampung Timur Tahun Pelajaran 20102011
  • Lokasi penelitian yang terjangkau oleh peneliti
B. Latar Belakang Masalah
Keluarga adalah tempat/alam pertama yang dikenal anak dan merupakan lembaga pertama ia menerima pendidikan.[7]Dengan demikian, orang tua dalam arti keluarga merupakan lingkungan primer yang bersifat fundamental. Disitulah anak dibesarkan, menemukan situasi belajar yang memungkinkan perkembangan yang lebih lanjut.
Selain itu orang tua hendaknya mampu memberikan kekuatan yang lebih tinggi dalam meningkatkan hasil belajar siswa di sekolah, diantaranya dengan jalan :
  • Mengawasi dan mendampingi siswa dalam belajar di rumah.
  • Memeriksa, melengkapi dan menyediakan sarana dan prasarana kebutuhan dalam belajar.
  • Mengenal kesulitan anak dalam belajar kemudian membantu mengatasinya.[8]
Dengan demikian akan dapat menolong siswa untuk dapat melakukan kegiatan belajar ke arah yang lebih baik. dorongan atau motivasi yang diberikan orang tua kepada siswa dirumah merupakan satu bentuk interaksi social yang dapat membantu meningkatkan minat belajar yang kemudian mendapatkan hasil belajar siswa yang baik.
Orang tua yang sayang terhadap anaknya akan senantiasa selalu memberikan motivasi yang besar kepada anaknya dalam belajar. Karena kegiatan belajar yang akan mencapai titik keberhasilan adalah yang benar-benar diawali dengan niat yang sungguh-sungguh untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih baik dari sebelumnya.
Kepedulian orang tua merupakan aspek pendorong suksenya pendidikan anak. Sedangkan suksesnya pendidikan dilihat dari hasil belajar. Penilaian dari hasil belajar baru dapat dilihat setelah proses pendidikan itu berlangsung. Maka dari itu selama proses pendidikan berlangsung hendaknya semua pihak yang terkait dalam proses pendidikan anak ikut serta membantu mensukseskan pendidikan anak, sehingga hasil akhir dari kegiatan belajar anak dapat mencapai taraf yang tinggi sesuai yang diinginkan.
            Selain dari pada itu, orang tua lah yang paling besar tanggung jawagnya terhadap pendidikan anak. Tanggung jawab atau kwajiban mendidik ini secara tegas dinyatakan dalam al qur’an :
                يَااَيـُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْا قُوْا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
” Hai Orang –orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..( QS; At Tahrim : 6 )[9].
Dengan demikian jelaslah kewajiban bahwa di dalam keluargalah, peran orang tua membina, mengarahkan pendidikan anaknya setelah waktu sekolah.
Dalam proses pendidikan dan pengajaran agar mencapai suatu hasil yang baik, akan timbul persoalan yang dihadapi siswa, dan apabila tidak dapat mengatasinya akan dapat menghambat proses belajarnya. Adapun masalah tersebut antara lain adalah menurunnya minat belajar dari siswa. Dengan adanya penurunan minat inilah, sudah tentu akan mengakibatkan kemerosotan pada hasil belajar.
Dalam hal ini minat merupakan landasan penting bagi seseorang untuk melakukan kegiatan dengan baik. Sebagai suatu aspek kejiwaan minat bukan saja dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang, tapi juga dapat mendorong orang untuk tetap melakukan dan memperoleh sesuatu. Hal itu sejalan dengan yang dikatakan oleh S. Nasution bahwa pelajaran akan berjalan lancar apabila ada minat. Anak-anak malas, tidak belajar, gagal karena tidak ada minat[10].
Penurunan minat belajar disebabkan kurangnya dorongan atau motivasi dari orang-orang terdekat anak didik tersebut khususnya orang tua yang menjadi figure panutan bagi anak-anaknya. Orang tua yang tidak peduli dengan pendidikan anak inilah yang nantinya bakal menjerumskan anak ke jurang kebodohan.
Maka dari itu diperlukan adanya dorongan atau motivasi yang ditimbulkan dari luar diri siswa, dan salah satu dorongan atau motivasi yang timbul tersebut adalah dari orang tua sendiri. Karena bagaimanapun juga anak akan lebih tersentuh hatinya bila melihat keinginan orang tua yang ingin anaknya menjadi orang yang berpengetahuan luas.
Keberhasilan dalam proses pendidikan anak perlu didukung oleh interaksi yang baik pula antara pendidik dengan siswa, pendidik dengan orang tua, dan orang tua dengan siswa. Di sekolah siswa memperoleh bimbingan dan dorongan masalah belajar dari seorang guru, kemudian di rumah siswa akan memperoleh pengawasan, bimbingan serta dorongan masalah belajar dari orang tua.
Dengan hubungan yang saling berkesinambungan dalam memberikan pengawasan, bimbingan serta motivasi masalah belajar kepada siswa akan membuat siswa semakin semangat dalam belajar sehingga hasil belajar pun bisa mencapai tingkat yang maksimal.
Berikut ini data pra survey yang penulis dapatkan pada MTs siswa kelas VII MTs AL Furqon Sekampung Kabupaten Lampung Timur Tahun Pelajaran 20102011
No
Nama
Motivasi Orang Tua
Hasil Belajar
1
Parlan
Rendah
50
2
Josandi
Sedang
70
3
Michel
Sedang
60
4
Darwin
Sedang
70
5
Rahmat
Tinggi
80
6
Munawaroh
Rendah
50
7
Kamidia
Rendah
50
8
Hidayah
Tinggi
80
9
Josep
Tinggi
80
10
Jo Sandi
Sedang
60

kriteria motivasi orang tua terhadap anaknya adalah :
  • Motivasi tinggi apabila siswa rajin belajar ketika ada atau tidak adanya dorongan dari orang tua.
  • Motivasi sedang apabila siswa rajin belajar ketika ada dorongan dari orang tua.
  • Motivasi rendah apabila siswa tidak rajin belajar meskipun ada dorongan dari orang tua.
Dari table tersebut di atas dapat penulis tarik kesimpulan sementara bahwa hasil belajar yang dimiliki oleh siswa kelas VII MTs AL Furqon Sekampung Kabupaten Lampung Timur Tahun Pelajaran 20102011  masih terdolong sedang karena motivasi yang ditimbulkan dari orang tua yang masih rendah atau kecil.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis menarik rumusan masalah sebagai berikut :
“Apakah Ada Hubungan Antara Motivasi Orang Tua Dengan Hasil Belajar siswa kelas VII MTs AL Furqon Sekampung Kabupaten Lampung Timur Tahun Pelajaran 20102011”
D. Hipotesis
Menurut Sutrisno Hadi hipotesis adalah dugaan yang mungkin salah dan mungkin benar, ia akan ditolak jika salah satu palsu dan akan diterima jika fakta membenarkannya.[11]
Jadi hipotesis adalah Dugaan sementara. Dalam hal ini penulis mengambil hipotesis :
“Ada Hubungan Antara Motivasi Orang Tua Dengan Hasil Belajar siswa kelas VII MTs AL Furqon Sekampung Kabupaten Lampung Timur Tahun Pelajaran 20102011  

E. Tujuan Dan Keguanaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Setiap perbuatan yang dilakukan harus memiliki arah dan tujuan, maka penelitian ini penulis lakukan dengan tujuan :
  • Untuk mengetahui seberapa besar motivasi yang diberikan orang tua terhadap anaknya.
  • Untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas VII MTs Al Furqon
  • Untuk mengetahui Hubungan Antara Motivasi Orang Tua Dengan Hasil Belajar siswa kelas VII MTs AL Furqon Sekampung Kabupaten Lampung Timur Tahun Pelajaran 20102011  
2. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitian ini yaitu untuk :
  • Memberikan motivasi kepada orang tua betapa pentingnya kepedulian orang tua terhadap pendidikan sang anak.
  • Untuk menguji kebenaran dari hipotesa yang penulis ajukan.
  • Untuk memenuhi salah satu syarat guna mencapai gelar Sarjana Pendidikan Islam di STAI Ma’arif Metro.

F. Jenis dan Sifat Penelitian
1. Jenis Penelitian
Dilihat dari tempatnya, penelitian ini adalah penelitian lapangan (Field Reasearch) karena data yang diperoleh dari lapangan. Dalam penelitian ini penulis mengambil lokasi di MTs AL Furqon Sekampung Kabupaten Lampung Timur. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dimana data yang diperoleh dari penelitian ini yaitu data yang berbentuk angka.
2. Sifat Penelitian
Dilihat dari sifatnya penelitian in bersifat asosiatif yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih.
3. Populasi
Populasi adalah banyak individu yang akan diteliti dalam suatu penelitian. Sutrisno Hadi berpendapat:

Populasi adalah seluruh penduduk yang dimaksud untuk diselidiki. Populasi dibatasi sebagai sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikitnya mempunyai sifat yang sama.[12]
Jadi populasi adalah sejumlah penduduk atau individu yang akan diteliti serta sedikitnya mempunyai sifat yang sama. Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII MTs AL Furqon Sekampung Kabupaten Lampung Timur Tahun Pelajaran 20102011  yang berjumlah 40 siswa, dengan perincian 17 orang siswa laki-laki dan 23 orang siswi perempuan.
4.Sampel
Ronny Kountur mengemukakan “Sampel adalah bagian dari populasi”.[13]
Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat diambil suatu pengertian bahwa sampel adalah merupakan bagian dari populasi untuk mewakili dari pembahasan yang jumlah populasinya banyak. Kemudian untuk menentukan sampel dalam pembahasan ini, penulis berpedoman dari pendapat Suharsimi Arikunto yang mengatakan : “Untuk sekedar ancer-ancer apabila subjeknya kurang dari seratus lebih baik diambil semua sehingga pembahasannya merupakan populasi, selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil 10 – 15% atau 20 – 25% atau lebih”.[14]
Karena jumlah subjek yang diteliti kurang dari 100, maka berdasarkan pendapat tersebut penulis mengambil teknik populasi yaitu dengan mengambil keseluruhan dari subjek yang diteliti yang berjumlah 40 orang.

G. Metode Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang akurat dalam penelitian ini, Penulis menggunakan beberapa metode tertentu agar sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Penulis. Adapun metode yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu:
1. Metode Kuisioner/Angket
Metode angket adalah metode pengumpulan data dengan cara memberikan daftar pertanyaan. Metode ini secara umum dikenal dengan nama Kuesioner.[15]
Sedangkan Suharsimi Arikunto, mengemukakan: “Kuisioner adalah daftar pertanyaan yang harus dijawab atau diisi oleh responden”[16]
Berdasarkan kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kuesioner adalah daftar pertanyaan yang harus dijawab atau diisi oleh responden.
Metode angket digunakan untuk mengungkapkan tentang motivasi orang tua terhadap hasil belajar siswa yang diberikan kepada 40 siswa yang menjadi populasi dalam penelitian.
2. Metode Dokumentasi
Suharsimi Arikunto menjelaskan bahwa: “Tidaklah kalah penting dari metode-metode lainnya adalah metode dokumentasi, yaitu mencari data tentang hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar dan lain-lain”.[17]
Berdasarkan pendapat tersebut, maka dalam penelitian ini Penulis mencatat data tentang hasil belajar siswa.
3. Metode Observasi
Yang dimaksud dengan observasi adalah seperti yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto yaitu, “Pengamatan atau observasi adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematis”.[18]
  • Dalam penelitian ini jelas observasi yang Penulis pergunakan adalah observasi sistematik, dimana dalam pelaksanaannya Penulis mengadakan pengamatan dan pencatatan di lokasi penelitian.
5. Metode Wawancara/Interview
Masalah tertentu, sesuai dengan pendapat berikut : “Interview yang sering juga disebut dengan wawancara atau kuesioner lisan, adalah sebuah dialog yang dilakukan pewawancara (Interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara (Interviewer).[19]
Dalam penelitian ini penulis menggunakan interview terpimpin yaitu : “Interview yang dilakukan oleh pewawancara dengan membawa sederetan pertanyaan lengkap dan terperinci seperti yang dimaksud dengan interview terstruktur.[20]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode ini sebagai penunjang interview merupakan suatu cara memperoleh data informasi dengan tanya jawab antara interview dan interviewer secara baik dan saling menyukai.

H. Analisis Data
Karena penelitian ini merupakan penelitian kuantatif, sehingga data-datanya berbentuk angka-angka, maka penulis olah dan analisa dengan menggunakan rumus product momen sebagai berikut :
 
















DAFTAR   PUSTAKA
  • Kartini Kartono, Bimbingan dan Dasar-Dasar Pelaksanaannya, Rajawali Pers, Jakarta.
  • Daryanto S.S, Kamus Bahasa Indonesia Lengkap, Apolo, Surabaya, 1997.
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Motivasi
  • W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1982.
  • Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, Bumi Aksara, Bandung,  2006.
  • Abu Ahmadi dan Nur Unbiyati, Ilmu Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta.
  • Kartini Kartono,Pengantar Metodelogi Research, Alumni, Bandung, 1985.
  • Departemen Agama RI, Alqur”an dan terjemahnya, CV. Thoha Putra, Semarang,  1996.
  • S. Nasution, Didaktik Azas-Azas Mengajar, Jemmars, Bandung;  1998.
  • Sutrisno Hadi, Metode Research Jilid I dan II, Fakultas UGM, Yogyakarta, 1989.
  • Sutrisno Hadi, Metodologi Research Jilid II, Fakultas Psikologi UGM,Yogyakarta, 1984.
  • Ronny Kountur, Metode Penelitian, PPM, Jakarta Pusat, 2003.
  • Suharsimi Arikunto, Prosedur penelitian dalam suatu pendekatan praktek, IKIP,  Jogyakarta, 2002.
  • Moh. Nazir, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Bogor, 1983.
  • Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Bina Aksara, Yogyakarta, 1989.


[1] Kartini Kartono, Bimbingan dan Dasar-Dasar Pelaksanaannya, Rajawali Pers, Jakarta, h. 335
[2] Daryanto S.S, Kamus Bahasa Indonesia Lengkap, Apolo, Surabaya, 1997, h. 271
[3] Ibid, h. 440
[4]  http://id.wikipedia.org/wiki/Motivasi
[5] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1982, h. 1361
[6] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, Bumi Aksara, Bandung,  2006, h. 30.
[7] Abu Ahmadi dan Nur Unbiyati, Ilmu Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, h. 172
[8] Kartini Kartono, Pengantar Metodelogi Research, Alumni, Bandung, 1985, h. 91
[9]  Departemen Agama RI, Alqur”an dan terjemahnya , Semarang, CV. Thoha Putra, 1996, h 951
[10] S. Nasution, Didaktik Azas-Azas Mengajar, (Bandung; Jemmars, 1998) h. 58
[11] Sutrisno Hadi, Metode Research Jilid I dan II, Fakultas UGM, Yogyakarta, 1989, h. 19
[12] Sutrisno Hadi, Metodologi Research Jilid II,  Fakultas Psikologi UGM,Yogyakarta, 1984, h. 220
[13]  Ronny Kountur, Metode Penelitian, PPM, Jakarta Pusat, 2003, hal 137
[14] Suharsimi Arikunto, Prosedur penelitian dalam suatu pendekatan praktek, IKIP,  Jogyakarta, 2002, h. 107
[15]  Moh. Nazir, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Bogor, 1983, h. 203
[16] Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Bina Aksara, Yogyakarta, 1989, h. 24
[17] Ibid, h. 187
[18] Ibid, h. 27
[19] Suharsimi Arikunto, op. cit, hal. 126
[20] Ibid, hal. 127
Read More..

Bimbingan dan Konseling Indonesia fix


BAB I
PENDAHULUAN

Secara yuridis keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator dan instruktur (UU No. 20/2003, pasal 1 ayat 6). Namun pengakuan secara eksplisit dan kesejajaran posisi antara kualifikasi tenaga pendidik satu dengan yang lainnya tidak menghilangkan arti bahwa setiap tenaga pendidik, termasuk konselor, memiliki konteks tugas, ekspektasi kinerja, dan setting pelayanan spesifik yang satu sama lain mengandung keunikan dan perbedaan. Oleh sebab itu, di dalam naskah ini konteks dan ekspektasi kinerja guru bimbingan dan konseling (yang di dalam naskah ini disebut konselor) mendapatkan penegasan kembali dengan maksud untuk meluruskan kembali konsep dan praktik bimbingan dan konseling ke arah yang tepat.















BAB II
PEMBAHASAN
PENGERTIAN BIMBINGAN DAN KONSELING
A. Pengertian Bimbingan
Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya terkandung beberapa makna. Sertzer & Stone (1966:3) mengemukakan bahwa guidance berasal kata guide yang mempunyai arti to direct, pilot, manager, or steer (menunjukkan, menentukan, mengatur, atau mengemudikan). Prayitno dan Erman Amti (2004:99) mengemukakan bahwa bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku. Sementara, Winkel (2005:27) mendefenisikan bimbingan:
(1) suatu usaha untuk melengkapi individu dengan pengetahuan, pengalaman dan informasi tentang dirinya sendiri,
 (2) suatu cara untuk memberikan bantuan kepada individu untuk memahami dan mempergunakan secara efisien dan efektif segala kesempatan yang dimiliki untuk perkembangan pribadinya,
(3) sejenis pelayanan kepada individu-individu agar mereka dapat menentukan pilihan, menetapkan tujuan dengan tepat dan menyusun rencana yang realistis, sehingga mereka dapat menyesuaikan diri dengan memuaskan diri dalam lingkungan dimana mereka hidup,
(4) suatu proses pemberian bantuan atau pertolongan kepada individu dalam hal memahami diri sendiri, menghubungkan pemahaman tentang dirinya sendiri dengan lingkungan, memilih, menentukan dan menyusun rencana sesuai dengan konsep dirinya dan tuntutan lingkungan.


I. Djumhur dan Moh. Surya, (1975:15) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding), kemampuan untuk menerima dirinya (self acceptance), kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan potensi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik keluarga, sekolah dan masyarakat.
Dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah dikemukakan bahwa Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan. Berdasarkan pengertian di atas dapat dipahami bahwa bimbingan pada prinsipnya adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu dalam hal memahami diri sendiri, menghubungkan pemahaman tentang dirinya sendiri dengan lingkungan, memilih, menentukan dan menyusun rencana sesuai dengan konsep dirinya dan tuntutan lingkungan berdasarkan norma-norma yang berlaku.

B. Pengertian Konseling
 Konseling menurut Prayitno dan Erman Amti (2004:105) adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara Konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.
Sejalan dengan itu, Winkel (2005:34) mendefinisikan Konseling sebagai serangkaian kegiatan paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu konseli/klien secara tatap muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus.



Menurut Pepinsky 7 Pepinsky ,dalan Shertzer & Stone,1974, konseling merupakan interaksi yang(a)terjadi antara dua orang individu ,masing-masing disebut konselor dan klien ;(b)terjadi dalam suasana yang profesional (c)dilakukan dan dijaga sebagai alat untuk memudah kan perubahan-perubahan dalam tingkah laku klien
Menurut Smith,dalam Shertzer & Stone,1974 , konseling merupakan suatu proses dimana konselor membantu konselor membuat interprestasi - interprestasi tetang fakta-fakta yang berhubungan dengn pilihan,rencana,atau penyesuaian-penyesuaian yang perlu dibuat.
Menurut Mc. Daniel,1956 , konseling merupakan suatu pertemuan langsung dengan individu yang ditujukan pada pemberian bantuan kepadanya untuk dapat menyesuaikan dirinya secara lebih efektif dengan dirinya sendiri dan lingkungan.
Menurut Berdnard & Fullmer ,1969, Konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan,motivasi,dan potensi-potensi yang yang unik dari individu dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasikan ketige hal tersebut.

Berdasarkan pengertian konseling di atas dapat dipahami bahwa konseling adalah usaha membantu konseli/klien secara tatap muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus. Dengan kata lain, teratasinya masalah yang dihadapi oleh konseli/klien.
Adapun tujuan pokok konseling adalah membantu murid memperoleh identitas dirinya sebagai landasan pokok untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam keseluruhan kehidupan pribadinya. Dengan demikian setelah pelaksanaan penyuluhan berakhir, diharapkan tersuluh (klien/conselee) memperoleh konsep yang memadai mengenai :
ü Dirinya sendiri
ü Orang lain disekitarnya




ü Pendapat orang lain mengensi dirinya
ü Tujuan-tujuan dan harapan-harapan yang mudah dicapai
ü Kepercayaan terhadap dirinya
Sedangkan hubungan Bimbingan dan Konseling adalah merupakan kegiatan yang integral, keduanya tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, perkataan guidance selalu dirangkaikan dengan konseling merupakan salah satu jenis teknik pelayanan bimbingan diantara pelayanan-pelayanan lainnya, dan sering dikatakan sebagai inti dari seluruh pelayanan dalam bimbingan.
Kegiatan bimbingan secara keseluruhan harus mencakup :
ü Bimbingan pribadi
ü Bimbingan sosial
ü Bimbingan belajar
ü Bimbingan karier















Daftar Pustaka
1.  Pustaka I. Djumhar dan Moh. Surya. 1975. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah (Guidance & Counseling). Bandung : CV Ilmu. Shertzer, B. & Stone, S.C. 1976.
2. Fundamental of Gudance. Boston : HMC Prayitno dan Erman Amti. 2004. Dasar-Dasar Bimbingan Konseling. Cetakan ke dua. Winkel, W.S,.2005.
3.  Bimbingan dan Konseling di Intitusi Pendidikan, Edisi Revisi. Jakart a: Gramedia






Read More..

JENIS-JENIS BELAJAR



JENIS-JENIS BELAJAR

A. Jenis-Jenis Belajar

Walaupun belajar dikatakan berubah, namun untuk mendapatkan perubahan itu bermacam-macam caranya. Setiap perbuatan belajar mempunyai cirri-ciri masing-masing. Para ahli dengan melihat ciri-ciri yang ada di dalamnya, mencoba membagi jenis-jenis belajar ini, disebabkan sudut pandang. Oleh karena itu, sampai saat ini belum ada kesepakatan atau keragaman dalam merumuskannya. A. De Block misalnya berbeda dengan C. Van Parreren dalam merumuskan sistematika jenis-jnis belajar. Demikian juga antara rumusan sistematika jenis-jenis belajar yang dikemukakan oleh C. Van Parreren dengan Robert M. Gagne.[1]

Jenis-jenis belajar yang diuraikan dalam pembahasan berikut ini merupakan penggabungan dari pendapat ketiga ahli di atas. Walaupun begitu, dari pendapat ketiga para ahli di atas, ada jenis-jenis belajar tertentu yang tidak dibahas dalam kesempatan ini, dengan pertimbangan sifat buku yang dibahas.

Oleh karena itu, jenis-jenis belajar yang diuraikan berikut ini menyangkut masalah belajar arti kata-kata, belajar kognitif, belajar menghafal, belajar teoritis, belajar kaedah, belajar konsef/pengertian, belajar keterampilan motorik, dan belajar estetik. Untuk jelasnya ikutilah uraian berikut.

1. Belajar arti kata-kata

Belajar arti kata-kata maksudnya adalah orang mulai menangkap arti yang terkandung dalam kata-kata yang digunakan. Pada mulanya suatu kata sudah dikenal, tetapi belum tahu artinya. Misalnya, pada anak kecil, dia sudah mengetahui kata “kucing” atau “anjing”, tetapi dia belum mengetahui bendanya, yaitu binatang yang disebutkan dengan kata itu. Namun lam kelamaan dia mengetahui juga apa arti kata “kucing” atau “anjing”,. Dia sudah tahu bahwa kedua binatang itu berkaki empat dan dapat berlari. Suatu ketika melihat seekor anjing dan anak tadi menyebutnya “kucing”. Koreksi dilakukan bahwa itu bukan kucing, tetapi anjing. Anak itu pun tahu bahwa anjing bertubuh besar dengan telinga yang cukup panjang, dan kucing itu bertubuh kecil dengan telinga yang kecil dari pada anjing.

Setiap pelajar atau mahasiswa pasti belajar arti kata-kata tertentu yang belum diketahui. Tanpa hal ini, maka sukar menggunakannya. Kalau pun dapat menggunakannya, tidak urung ditemukan kesalahan penggunaan. Mengerti arti kata-kata merupakan dasar-dasar terpenting. Orang yang membaca akan mengalami kesukaran untuk memahami isi bacaan. Karena ide-ide yang terpatri dalam setiap kata. Dengan kata-kata itulah, para penulis atau pengarang melukiskan ide-idenya kepada siding pembaca. Oleh karena itu, penguasaan arti kata-kata adalah penting dalam belajar.

2. Belajar Kognitif

Tak dapat disangkal bahwa belajar kognitif bersentuhan dengan masalah mental. Objek-objek yang diamati dihadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan, atau lambang yang merupakan sesuatu bersifat mental. Misalnya, seseorang menceritakan hasil perjalanannya berupa pengalamannya kepada temuannya. Ketika dia menceritakan pengalamannya selama dalam perjalanan, dia tidak tidak dapat menghadirrkan objek-objek yang pernah dilihatnya selama dalam perjalanan itu di hadapan temannya itu, dia hanya dapat menggambarkan semua objek itu dalam bentuk kata-kata atau kalimat. Gagasan atau tanggapan tentang objek-objek yang dilihat itu dituangkan dalam kata-kata atau kalimat yang disampaikan kepada orang yang mendengarkan ceritanya.

Bila tanggapan berupa objek-objek materiil dan tidak materiil telah dimiliki, maka seseorang telah mempunyai alam pikiran kognitif. Itu berarti semakin banyak pikiran dan gagasan yang dimiliki seseorang, semakin kaya dan luaslah alam pikiran kognitif orang itu.

Belajar kognitif penting dalam belajar. Dalam belajar, seseorang tidak bisa melepaskan diri dari kegiatan belajar kognitif. Mana bisa kegiatan mental tidak berproses ketika memberikan tanggapan terhadap ojek-objek yang diamati. Sedangkan belajar itu sendiri adalah proses mental yang bergerak kea rah perubahan.

3. Belajar Menghafal

Menghafal adalah suatu aktivitas menanamkan suatu materi verbal dalam ingatan, sehingga nantinya dapat diproduksikan {diingat} kembali secara harfiah, sesuai dengan materi yang asli, dan menyimpan kesan-kesan yang nantinya suatu waktu bila diperlukan dapat diingat kembali kealam dasar.

Dalam menghafal, ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan, yaitu mengenai tujuan, pengertian, perhatian, dan ingatan. Efektif tidaknya dalam menghafal dipengaruhi oleh syarat-syarat tersebut. Menghafal tanpa tujuan menjadi tidak terarah, menghafal tanpa pengertian menjadi kabur, menghafal tanpa perhatian adalah kacau, dan menghafal tanpa ingatan adalah sia-sia.

4. Belajar Teoritis

Bentuk belajar ini bertujuan untuk menempatkan semua data dan fakta {pengetahuan} dalam suatu kerangka organisasi mental, sehingga dapat difahami dan digunakan untuk memecahkan problem, seperti terjadi dalam bidang-bidang studi ilmiah. Maka, diciptakan konsep-konsef, relasi-relasi di antara konsep-konsep dan struktur-struktur hubungan. Missalnya, “bujur sangkar” mencakup semua persegi empat; iklim dan cuaca berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman; tumbuh-tumbuhan dibagi dalam genus dan species. Sekaligus dikembangkan dalam metode-metode untuk memecahkan problem-problem secara efektif dan efesien, misalnya dalam penelitian fisika.

5. Belajar Konsep

Konsep atau pengertian adalah satuan arti yang mewakili sejumlah objek yang mempunyai ciri-ciri yang sama, orang yang memiliki konsep mampu mengadakan abstraksi terhadap objek-objek yang dihadapinya, sehingga objek ditempatkan dalam golongan tertentu. Objek-objek dihadirkan dalam kesadaran orang dalam bentuk repressentasi mental tak berperaga. Konsep sendiri pun dapat dilambangkan dalam bentuk suatu kata {lambang bahasa}.

Konsep dibedakan atas konsep konkret dan konsep yang harus didefinisikan. Konsep konkret adalah pengertian yang menunjuk pada objek-objek dalam lingkungan fisik. Konsep ini mewakili benda tertentu, seperti meja, kursi, tumbuhan, rumah, mobil, sepeda motor dan sebagainya. Konsep yang didefinisikan adalah konsep yang mewakili realitas hidup, tetapi tidak langsung menunjuk pada realitas dalam lingkungan hidup fisik, karena realitas itu tidak berbadan. Hanya dirasakan adanya melalui proses mental. Misalnya, saudara sepupu, saudara kandung, paman, bibi, belajar, perkawinan, dan sebagainya, adalah kata-kata yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa, bahkan dengan mikroskop sekalipun. Untuk memberikan pengertian pada semua kata itu diperlukan konsep yang didefinisikan dengan menggunakan lambang bahasa.

Ahmad adalah saudara sepupu Mahmud; merupakan kenyataan {realitas}, tetapi tidak dapat diketahui dengan mengamati Ahmad dan Mahmud. Kenyataan itu dapat diketahui dengan menggunakan lambang bahasa. Kata “saudara sepupu” dijelaskan. Penjelasan atas kata “saudara sepupu” itulah yang dimaksudkan disini dengan konsep yang didefinisikan. Berdasarkan konsep yang didefinisikan, didapatkan pengertian, sauadara sepupu adalah anak dari paman atau bibi.

Akhirnya, belajar konsep adalah berfikir dalam konsep dan belajar pengertian. Taraf ini adalah taraf konprehensif. Taraf kedua dalam taraf berfikir. Taraf pertamanya adalah taraf pengetahuan, yaitu belajar reseptif atau menerima.

6. Belajar Kaidah

Belajar kaidah {rule} termasuk dari jenis belajar kemahiran intelektual {intellectual skill}, yang dikemukakan oleh Gagne.[2] Belajar kaidah adalah bila dua konsep atau lebih dihubungkan satu sama lain, terbentuk suatu ketentuan yang mereprensikan suatu keteraturan. Orang yang telah mempelajari suatu kaidah, mampu menghubungkan beberapa konsep. Misalnya, seseorang berkata, “besi dipanaskan memuai”, karena seseorang telah menguasai konsep dasar mengenai “besi”, “dipanaskan” dan “memuai”, dan dapat menentukan adanya suatu relasi yang tetap antara ketiga konsep dasar itu {besi, dipanaskan, dan memuai}, maka dia dengan yakin mengatakan bahwa “besi dipanaskan memuai”.

Kaidah adalah suatu pegangan yang tidak dapat diubah-ubah. Kaidah merupakan suatu representasi {gambaran} mental dari kenyataan hidup dan sangat berguna dalam mengatur kehidupan sehari-hari. Hal ini berarti bahwa kaidah merupakan suatu keteraturan yang berlaku sepanjang masa. Oleh karena itu, belajar kaidah sangat penting bagi seseorang sebagai salah salah satu upaya penguasaan ilmu selama belajar di sekolah atau di perguruan tinggi {universitas}.

semoga uraian di atas dapat menjadi penghubung dalam memahami belajar kaidah-kaidah di dalam menuntut ilmu..

7. Belajar Berpikir

Dalam belajar ini, orang dihadapkan pada suatu masalah yang harus dipecahkan, tetapi tanpa melalui pengamatan dan reorganisasi dalam pengamatan.masalah harus dipecahkan melalui operasi mental, khususnya menggunakan konsep dan kaidah serta metode-metode bekerja tertentu.

Dalam konteks ini ada istilah berpikir konvergen dan berpikir divergen. Berpikir konvergen adalah berpikir menuju satu arah yang benar atau satu jawaban yang paling tepat atau satu pemecahan dari suatu masalah.berpikir divergen adalah berpikir dalam arah yang berbeda-beda, akan diperoleh jawaban-jawaban unit yang berbeda-beda tetapi benar.

Konsep Dewey tentang berpikir menjadi dasar untuk pemecahan masalah adalah sebagai berikut.
a. Adanya kesulitan yang dirasakan dan kesadaran akan adanya masalah.
b. Masalah itu diperjelas dan dibatasi.
c. Mencari informasi atau data dan kemudian data itu diorganisasikan.
d. Mencari hubungan-hubungan untuk merumuskan hipotesis-hipotesis, kemudian hipotesis-hipotesis itu dinilai, diuji, agar dapat ditentukan untuk diterima atau ditolak.
e. Penerapan pemecahan terhadap masalah yang dihadapi sekaligus berlaku sabagai pengujian kebenaran pemecahan tersebut untuk dapat sampai pada kesimpulan.

Menurut Dewey, langkah-langkah dalam pemecahan masalah adalah sebagai berikut.
a. Kesadaran akan adanya masalah.
b. Merumuskan masalah.
c. Mencari data dan merumuskan hipotesis-hipotesis.
d. Menguji hipotesis-hipotesis itu.
e. Menerima hipotesis yang benar.

Meskipun diperlukan langkah-langkah, menurut Dewey, tetapi pemecahan masalah itu tidak selalu mengikuti urutan yang teratur, melainkan meloncat-loncat antara macam-macam langkah tersebut. Lebih-lebih apabila orang berusaha memecahkan masalah-masalah yang kompleks.[3]

B. Prinsip-Prinsip Belajar
Telah dipahami belajar adalah berubah. Berubah berarti belajar, tidak berubah, berarti tidak belajar. Itulah sebabnya hakikat belajar adalah perubahan. Tetapi tidak semua perubahan berarti belajar.
Agar setelah melakukan kegiatan belajar didapatkan hasil yang efektif dan efesien tentu saja diperlukan prinsip-prinsip belajar tertentu yang dapat melapangkan jalan kea rah keberhasilan.[4] Maka calon guru/pembimbing seharusnya sudah dapat menyusun sendiri prinsip-prinsip belajar, ialah prinsip belajar yang dapat terlaksana dalam situasi dan kondisi yang berbeda, dan oleh setiap siswa secara individual. Namun demikian marilah kita susun prinsip-prinsip belajar itu, sebagai berikut:
Dalam belajar setiap siswa harus diusahakan partisipasi aktif, meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan intruksional;
Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki struktur, penyajian yang sederhana, sehingga siswa mudah menangkap pengertiannya;
Belajar harus dapat menimbulkan reinforcement dan motivasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan intruksional;
Belajar itu proses kontinyu, maka harus tahap demi tahap menurut perkembangannya;
Belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan discovery;
Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan instruksional yang harus dicapainya;[5]
Belajar memerlukan sarana yang cukup, sehingga siswa dapat belajar dengan tenang;
Belajar memerlukan lingkungan yang menantang di mana anak dapat mengembangkan kemampuannya bereksplorasi dan belajar yang efektif;
Belajar perlu ada interaksi siswa dengan lingkungannya;
Belajar adalah proses kontiguitas {hubunagan antara pengertian yang satu dengan pengertian yang lain} sehingga mendapatkan pengertian yang diharapakan. Stimulus yang diberikan menimbulkan response yang diharapkan;
Repetisi, dalam proses belajar perlu ulangan berkali-kali agar pengertian/keterampilan/sikap itu mendalam pada siswa;
[1]. Drs. Syaiful Bahri Djamarah “Psikologi Belajar”, Rineka Cipta, Jakarta. 2002, Hal. 27

[2]. Drs. Syaiful Bahri Djamarah, op. cit., Hal. 32

[3]. Drs. Syaiful Bahri Djamarah, op. cit., Hal. 34

[4]. Drs. Syaiful Bahri Djamarah, op. cit., Hal. 61

[5].Drs. Slameto “Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya”, Rineka Cipta, Jakarta, 1988. Hal. 29

13- Agustus- 2008 - Posted by UDHIEXZ | Pendidikan           | JENIS-JENIS BELAJAR



http://udhiexz.wordpress.com/2008/08/13/jenis-jenis-belajar/
Read More..

KONSEP PENDIDIKAN MENURUT CONFUCIANISME DALAM KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI


KONSEP PENDIDIKAN MENURUT CONFUCIANISME DALAM KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI

Oleh: Utami Sulistyawati

• PENGANTAR

Pendidikan adalah salah satu unsur paling penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan merupakan proses pendewasaan diri manusia itu sendiri serta selain itu pendidikan juga merupakan proses pembentukan pribadi dan karakter manusia. Kemudian, pada satu fokus yang lebih khusus yaitu pendidikan formal, manusia diberikan dasar-dasar pengetahuan sebagai pegangan dalam menjalani hidup dan menghadapi kenyataan hidup dimana didalam pendidikan formal dalam hal ini adalah sekolah menjadi suatu jenjang yang mungkin memang sudah selayaknya dilalui dalam proses kehidupan manusia. Kemudian dalam pendidikan sekolah itu, manusia juga selain melatih kedewasaan juga mengasah intelektualitasnya dan kompetensinya dalam tanggung jawab dan kesadaran.

Seperti telah dituliskan sebelumnya, pada dunia sekolah, manusia dilatih intelektualitasnya dengan pengetahuan dan ilmu-ilmu yang diajarkan dalam proses pendidikannya pada jenjang-jenjang yang telah ada dan diatur. Untuk itu, pada pendidikan sekolah sangat diperlukan adanya perencanaan dalam pendidikan demi tercapainya tujuan pendidikan tersebut. Perencanaan yang dimaksud adalah kurikulum pendidikan atau sekolah yang di dalamnya terdapat standar-standar pembelajaran dan pengembangan intelektualitas manusia.

Dua kebijakan pokok yang telah ditetapkan pemerintah untuk mendongkrak kualitas pendidikan yaitu melalui “Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan”. Gerakan ini juga diharapkan bisa menumbuhkan kecakapan anak didik sesuai dengan kebutuhan lokal dalam perspektif global ( act locally think globally ). Pertama, hal yang menyangkut efisiensi pengelolaan pendidikan, pemerintah telah menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). Kedua, untuk lebih memacu akselerasi peningkatan mutu, pemerintah juga telah merancang KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) ( www.pendidikanIndonesia.com ).

Pada tahun 2004 dimulai kurikulum baru yang biasa disebut dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Kurikulum ini bisa dikatakan menganut atau didasari pada pendidikan confucianis. Mengapa demikian? Hal tersebut dapat terlihat pada pola pengajaran antara sistem KBK dengan pendidikan Confucius bisa dikatakan sama yaitu mengajar harus sesuai dengan kecakapan para murid, mengajar hendaknya dianggap sebagai media hiburan, dan belajar hendaknya merupakan sesuatu yang lebih bermanfaat, serta mengajar hendaknya merupakan evaluasi dari beberapa kasus yang timbul. Untuk hal ini maka pada makalah ini sedikit dibahas mengenai sistem kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dalam pandangan kaum confucianisme.

Pada makalah ini akan dibahas kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dan pandangan filosofisnya sebagai bentuk dari essensi pendidikan yang diselenggarakan. Tentunya bukan dengan tujuan menjatuhkan akan tetapi memandang KBK sebagai kurikulum dalam proses pendidikan secara kritis. Untuk menemukan esensi dan substansi pendidikan tersebut.

Bagaimanakah proses pembelajarannya, benarkah KBK sebagai bentuk pendidikan yang menganut atau didasari pada pendidikan confucianis, selain itu akan sedikit dibahas pula manusia sebagai peserta didik dan kedudukannya dalam pendidikan menurut KBK dan kesesuaian KBK dengan pendidikan pada confucianisme.

Secara teoritis, makalah ini bersandar pada teori pendidikan menurut aliran confucianisme yaitu pendidikan merupakan pembekalan kepada subjek didik agar dapat menyesuaikan pada kehidupan nyata, lebih dari itu ialah meningkatkan moral, perkembangan mental yang penuh, termasuk akal budi dengan kecerdasannya. Dalam hal ini pendidikan dipusatkan pada manusianya. Selain itu, peserta didik merupakan subjek didik. Bukan objek didik

• PEMBAHASAN

• Pengertian Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) adalah kurikulum yang seperti namanya didasari oleh kompetensi. Kompetensi sendiri adalah pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak secara terus-menerus dan konsisten (Dr. Nurhadi. 2004)

Kurikulum berbasis kompetensi sendiri adalah seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa. Bisa dikatakan bahwa kurikulum ini mengharapkan hasil dimana para siswa dapat melakukan sesuatu dalam konteks tertentu dengan tindakan yang sesuai dengan konteks yang terjadi. Bisa dikatakan juga siswa dapat menyesuaikan diri pada suatu konteks nyata yang terjadi.

Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi mempertimbangkan prinsip-prinsip sebagai berikut ( www.kurikulumberbasiskompetensi.com ):
• Keimanan, nilai dan budi pekerti luhur
• Penguatan integritas nasional
• Keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinestetika
• Kesamaan memperoleh kesempatan
• Abad pengetahuan dan teknologi informasi
• Pengembangan keterampilan hidup
• Belajar sepanjang hayat
• Berpusat pada anak dan penilaian yang berkelanjutan dan komperhensif
• Pendekatan menyeluruh dan kemitraan
Kurikulum berbasis kompetensi merupakan kerangka inti yang memiliki empat komponen yaitu kurikulum dan hasil, penilaian berbasis kelas, kegiatan belajar mengajar dan pengelolaan kurikulum berbasis sekolah ( www.kurikulumberbasiskompetensi.com ).
• Kurikulum dan hasil belajar , memuat perencanaan pengembangan kompetensi peserta didik yang perlu dicapai secara keseluruhan sejak lahir hingga 18 tahun, kurikulum dan hasil belajar ini memuat kompetensi, hasil belajar, dan indikator dari TK dan RA sampai dengan kelas XII (TK dan RA – 12).
• Penilaian berbasis kelas , memuat prinsip, sasaran dan pelaksanaan penilaian berkelanjutan yang lebih akurat dan konsisten sebagai akuntabilitas publik melalui identifikasi kompetensi/hasil belajar yang telah dicapai, pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah dicapai serta peta kemajuan belajar siswa dan pelaporan .
• Kegiataan belajar mengajar , memuat gagasan-gagasan pokok tentang pembelajaran dan pengajaran yang untuk mencapai kompetensi yang ditetapkan serta gagasan-gagasan pedagogis dan androgogis yang mengelola pembelajaran agar tidak mekanistik.
• Pengelolaan kurikulum berbasis sekolah , memuat berbagai pola pemberdayaan tenaga kependidikan dan sumber daya lain untuk meningkatkan mutu belajar. Pola ini dilengkapi pula dengan gagasan pembentukan jaringan kurikulum ( curriculum council ) pengembangan perangkat kurikulum ( a.l. silabus ), pembinaan profesional tenaga kependidikan dan pengembangan sistem informasi kurikulum.
Kurikulum ini pada bentuknya bertujuan pada pencapaian siswa pada kompetensi tertentu setidaknya standar-standar akan kompetensi yang telah ditentukan dapat terpenuhi. Pembelajaran yang dilakukan tidak terpaku pada hasil pendidikan tetapi lebih kepada proses pembelajaran itu sendiri dimana siswa dapat bereksperimen dengan keadaan yang tersedia di depannya, demi untuk tercapainya pengetahuan karena memang pembelajaran tidak hanya bersumber dari guru saja melainkan dari non-guru, selama hal itu mendukung kompetensi siswa yang diharapkan.
Selain itu, mutu pendidikan yang diberikan tidak dipatok pada 1 tingkatan mutu atau keadaan saja melainkan diberikan secara demokratis yaitu bisa saja pendidikan dikembangkan lebih baik atau mungkin hanya sekedarnya. Hal ini didasarkan pada keadaan siswa yang ada. Bahkan mengenai demokrasi mutu ini, pada tahun 2005, J.Drost, SJ mengusulkan bahwa dengan pemberian mutu pengajaran yang demokratis seperti ini maka baginya, pengajarannya juga dipisahkan antara orang-orang yang cerdas dengan orang-orang yang tidak terlalu menonjol kecerdasannya. Akan tetapi di luar hal itu pendidikan yang diselenggarakan tidak sepenuhnya diberikan plot-plot pengajaran itu melainkan diatur sesuai keadaan yang ada pada siswa dengan catatan standarisasi kecakapan atau kompetensi siswa tetap dapat terpenuhi.
Pada bagian lain yaitu metode pembelajaran siswa adalah metode pembelajaran yang didasari oleh konteks sosial maka dibuat sedemikian rupa keadaan dimana siswa dapat diikutsertakan dalam rekonstruksi konteks sosial yang telah diberikan.
Untuk memperjelas keterangan di atas, saya akan memberikan contoh sekolah yang telah menggunakan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) disekolahnya, yaitu ( www.kurikulumberbasiskompetensi.com ):
Dari “Green Apple” – Suara MBE, Kota Batu permainan domino untuk pembelajaran pecahan.
Mendengar kata domino, pikiran kita langsung tertuju pada kartu permainan dengan bulatan-bulatan merah berjumlah 1 – 6. Biasanya kita menggunakan domino untuk bermain sambil mengisi waktu luang. Tetapi tidak bagi bu Juliati, Guru kelas III dari SD Songgokerto III Batu.
Domino dimodifikasi dan digunakan sebagai media bagi pembelajaran pecahan pada siswa kelas III SD serta mengantarkan ibu Juli sebagai Juara I lomba Kreativitas Guru Sains dan Matematika tingkat Jawa Timur. Ibu Juli memodifikasi bulatan-bulatan domino
Aturan permainan dalam pembelajaran ini ada tiga macam, yaitu:
• Pembelajaran pecahan-pecahan yang ekivalen. Siswa memasangkan gambar dengan angka atau angka dengan angka atau gambar dengan gambar yang senilai atau ekivalen.
• Pembelajaran perbandingan dua pecahan yang nilainya berbeda lebih besar. Siswa memasangkan suatu gambar dengan angka atau angka dengan angka atau gambar dengan gambar yang nilainya lebih besar.
• Pembelajaran perbandingan dua pecahan yang nilainya berbeda lebih kecil. Aturan permainannya siswa memasangkan suatu gambar dengan angka atau angka dengan angka atau gambar dengan gambar yang nilainya lebih kecil.
Dengan menggunakan media domino yang dimodifikasi puzzle ini ternyata murid-murid kelas III menjadi lebih mudah memahami konsep pecahan. Siswa-siswa juga merasa senang karena mereka dapat belajar melalui bermain.
• Pendidikan menurut Confucianisme
Confucius berusaha menata secara baik terhadap situasi dan kondisi masyarakat Cina sesuai dengan adat-istiadat yang berlaku pada waktu itu melalui sarana pendidikan dengan cara membenahi hal-hal yang dipandang tidak benar. Confucius berpendapat bahwa pendidikan memiliki dua tujuan, yaitu (Widyastini, 2004: 7-8):
• Khusus: membimbing dan mendidik agar senantiasa siap menjadi generasi-generasi penerus bangsa.
• Umum: mewujudkan manusia-manusia yang bermoral, pandai, dan mempunyai rasa tanggung jawab kepada masyarakat, bangsa dan negara.
Confucius mengatakan bahwa di dalam dunia pendidikan tidak mengenal tinggi dan rendahnya kedudukan seseorang: semua sama (Widyastini, 2004: 7-8).
Di dalam buku Analects, Confucius berkata bahwa (Confucius, 1991: 20-21):
• Belajar lebih intensif
• Mengajar tidak memandang keturunan
• Mengajar harus sesuai dengan kecakapan para murid
• Mengajar hendaknya dianggap sebagai media hiburan
• Mengajar hendaknya menggunakan metode yang tepat
• Mengajar hendaknya tanpa adanya rasa segan
• Mengajar hendaknya merupakan evaluasi dari beberapa kasus yang timbul
• Belajar hendaknya merupakan sesuatu yang lebih bermanfaat.
Kedelapan prinsip tersebut diatas, sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Confucius, tidak hanya berpengaruh dalam pendidikan kuno saja, tetapi hal ini masih dan tetap digunakan dalam pendidikan modern saat ini.
Confucius dikenal sebagai filosof Cina, ciri khas pemikiran pragmatis dan melingkupi hal-hal yang sifatnya praktis; sehingga lebih banyak menjauhi masalah-masalah yang dogmatis (teoritis), dalam hal ini kebenaran dibuktikan melalui akal dan dibuktikan melalui empiris. Menurut Lasiyo sebagaimana dinyatakan oleh Confucius kepada murid-muridnya bahwa sebaiknya dalam menghadapi suatu permasalahan hendaknya diusahakan dengan berpikir secara mandiri, maka tidak mudah mengikuti pendapat orang lain dan harus dapat menganalisis secara benar, ia berkata (Widyastini, 2004: 18):
”Sang guru tidak boleh mendiktekan sesuatu kebenaran kepada murid-muridnya, murid-murid harus berpikir sendiri dan apabila kebenaran menurut mereka bertentangan dengan apa yang diajarkan gurunya mereka dapat mendebat gurunya” (Lasiyo, 1983: 26), maka seorang pendidik yang baik adalah pendidik yang memberi kebebasan berpikir kepada anak didiknya sehingga mereka dapat menghasilkan penemuan-penemuan baru, jika kebenaran yang didapatkan berlainan dengan yang diajarkan oleh sang pendidik, maka peserta didik diperbolehkan mengadu argumentasi, untuk lebih menumbuhkembangkan pemikiran dan penalaran mereka, maka dalam hal ini dibutuhkan kematangan dalam berpikir dan berperilaku (Lasiyo, 1997: 3).”
Salah satu konsep yang mendasar dalam pendidikan Confucius ialah konsep mengenai Tao. Tao sendiri mempunyai arti ”Jalan/cara” (the way) atau ”alur” (path). Tao adalah “Jalan”, dengan huruf besar J, artinya jalan diatas segenap jalan lain yang seharusnya diikuti manusia (Creel, 1990: 34-35). Tujuan yang hendak dicapainya ialah kebahagiaan, dalam hidup ini, disini dan kini, untuk segenap umat manusia.
• KBK dalam Pendidikan Confucianisme, benarkah?
Kurikulum berbasis kompetensi, suatu perencanaan dengan dasar kompetensi. Seperti telah dijabarkan sebelumnya terlihat sangat mementingkan peran aktif siswa atau peserta didik hal ini diperlihatkan pada metode pelajaran yang disusun dalam KBK. Dalam metode ini seperti dituliskan sebelum ini yaitu dalam pembelajaran yang lebih kepada eksperimen, konstruksi masalah dan kompetensi.
Dalam tataran ini memang pada kurikulum berbasis kompetensi begitu jelasnya berusaha menggambarkan pendidikan yang diajarkan oleh confucius lebih jauh lagi dalam tujuan yang diambil dalam kurikulum berbasis kompetensi kurang lebih mirip dengan pengertian pendidikan confucianisme serta pola yang dibangun yaitu:
• Belajar hendaknya merupakan sesuatu yang lebih bermanfaat
• Mengajar hendaknya dianggap sebagai media hiburan
• Mengajar hendaknya merupakan evaluasi dari beberapa kasus yang timbul, dll.
Selain itu, Confucius sendiri juga mengatakan bahwa pendidikan yang diterapkan pada masanya tidak hanya berpengaruh dalam pendidikan kuno saja, tetapi hal ini masih dan tetap digunakan dalam pendidikan modern saat ini. Akan tetapi kita tidak bisa mengambil kesimpulan bahwa model pendidikan confucianisme sama dengan sistem pendidikan KBK. Karena jika kita teliti lebih dalam lagi, walaupun banyak kesamaan antara sistem KBK dengan pendidikan Confucianisme, namun sebenarnya antara keduanya sangat berbeda. Hal tersebut terlihat pada masih ada rasa segan diantara kedua belah pihak, baik dari pihak pengajar maupun peserta didik, serta masih ada otoritas dari pendidik.
Namun, bagaimanapun juga dengan metode baru serta pandangan filosofis yang bisa dikatakan baru dilaksanakan pada kurikulum pendidikan di Indonesia diharapkan bisa membangun sumber daya manusia menjadi lebih baik.
• KESIMPULAN
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, kurikulum berbasis kompetensi sebagai suatu kurikulum yang mendasari rencana pendidikan dan pembelajaran di Indonesia ini adalah suatu kemajuan sendiri dalam perjalanannya. Hal ini sudah barang tentu sebagai suatu usaha pembangunan manusia Indonesia kearah yang lebih baik lagi.
Hanya saja kurikulum di Indonesia kembali terjebak pada pola pendidikan yang tetap mempertahankan otoritas pendidik dalam kelas (pada pendidikan formal) walaupun dengan metode sekarang yang lebih variatif. Secara substansial, pendidikan dengan dasar KBK belum sampai kepada pendidikan yang dianut oleh Confucius. Akan tetapi, memang metode-metode pendidikan yang sudah dan sedang dijalankan sudah mendekati kepada tujuan pendidikan Confucianisme. Boleh dikatakan tinggal beberapa langkah lagi sampai kepada idealisme pendidikan Confucianisme.
• DAFTAR PUSTAKA

Creel, H. G. 1990. Alam Pikiran Cina; Sejak Confucius sampai Mao Zedong . Yogyakarta : P. T. Tiara Wacana.

Drost. J. 2005. dari KBK (kurikulum berbasis kompetensi) sampai MBS (manajemen berbasis sekolah); esai-esai pendidikan . Jakarta: Kompas.

Nurhadi, Dr. 2004. Kurikulum 2004; pertanyaan dan jawaban . Jakarta: Grasindo

Widyastini. 2004. Filsafat Manusia Menurut Confucius dan Al Ga zali. Yogyakarta : Paradigma.

www.kurikulumberbasiskompetensi.com

www.pendidikanIndonesia.com


http://jurnalmahasiswa.filsafat.ugm.ac.id/cin-6.htm


http://udhiexz.wordpress.com/2008/08/02/konsep-pendidikan-menurut-confucianisme-dalam-kurikulum-berbasis-kompetensi/
Read More..